Hapuslah Air Mata di Pipi, Hilangkan Lara di Hati...

Kegelisahan, kedukaan dan air mata adalah bagian dari sketsa hidup di dunia. Tetesan air mata yang bermuara dari hati dan berselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan.

Kedukaan karena kerinduan yang teramat sangat dalam menyebabkan kepedihan yang menyesakkan rongga dada. Jiwa yang rapuh pun berkisah pada alam serta isinya, bertanya, dimanakah pasangan jiwa berada. Lalu, hati menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.

Keinginan bertemu pasangan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah? Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya, hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Sebuah fitrah pula bahwa setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian. Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya, akan terbentuk jiwa-jiwa yang sholeh dan sholehah.

Duhai...
Betapa mulianya kedudukan seorang wanita, apalagi bila ia seorang wanita beriman yang mampu membina dan menjaga keindahan cahaya Islam hingga memenuhi setiap sudut rumahtangganya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala pun telah menciptakan wanita dengan segala keistimewaannya, hamil, melahirkan, menyusui hingga keta'atan dan memenuhi hak-hak suaminya laksana arena jihad fii sabilillah. Karenanya, yakinkah batin itu tiada goresan saat melihat pernikahan wanita lain di bawah umurnya? Pernahkah kita menyaksikan kepedihan wanita yang berazam menjaga kehormatan diri hingga ia menemukan kekasih hati? Dapatkah kita menggambarkan perasaannya yang merintih saat melihat kebahagiaan wanita lain melahirkan? Atau, tidakkah kita melihat kilas tatapan sedih matanya ketika melihat aqiqah anak kita?

Letih...
Sungguh amat letih jiwa dan raga. Sendiri mengayuh biduk kecil dengan rasa hampa, tanpa tahu adakah belahan jiwa yang menunggu di sana.

Duhai ukhti sholehah...
Dalam Islam, kehidupan manusia bukan hanya untuk dunia fana ini saja, karena masih ada akhirat. Memang, setiap manusia telah diciptakan berpasangan, namun tak hanya dibatasi dunia fana ini saja. Seseorang yang belum menemukan pasangan jiwanya, insya Allah akan dipertemukan di akhirat sana, selama ia beriman dan bertaqwa serta sabar atas ujian-Nya yang telah menetapkan dirinya sebagai lajang di dunia fana. Mungkin sang pangeran pun tak sabar untuk bersua dan telah menunggu di tepi surga, berkereta kencana untuk membawamu ke istananya.

Keresahan dan kegelisahan janganlah sampai merubah pandangan kepada Sang Pemilik Cinta. Kalaulah rasa itu selalu menghantui, usah kau lara sendiri, duhai ukhti. Taqarrub-lah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kembalikan segala urusan hanya kepada-Nya, bukankah hanya Ia yang Maha Memberi dan Maha Pengasih. Ikhtiar, munajat serta untaian doa tiada habis-habisnya curahkanlah kepada Sang Pemilik Hati. Tak usah membandingkan diri ini dengan wanita lain, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala pasti memberikan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya, meski ia tidak menyadarinya.

Usahlah dirimu bersedih lalu menangis di penghujung malam karena tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pasangan jiwa. Menangislah karena air mata permohonan kepada-Nya di setiap sujud dan keheningan pekat malam. Jadikan hidup ini selalu penuh dengan harapan baik kepada Sang Pemilik Jiwa. Bersiap menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tausyiah-lah selalu hati dengan tarbiyah Ilahi hingga diri ini tidak sepi dalam kesendirian.

Bukankah kalau sudah saatnya tiba, jodoh tak akan lari kemana. Karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad, siapa belahan jiwamu pun telah dituliskan-Nya.

Sabarlah ukhti sholehah...
Bukankah mentari akan selalu menghiasi pagi dengan kemewahan sinar keemasannya. Malam masih indah dengan sinar lembut rembulan yang dipagar bintang gemintang. Kicauan bening burung malam pun selalu riang bercanda di kegelapan. Senyumlah, laksana senyum mempesona butir embun pagi yang selalu setia menyapa.

Hapuslah air mata di pipi dan hilangkan lara di hati. Terimalah semua sebagai bagian dari perjalanan hidup ini. Dengan kebesaran hati dan jiwa, dirimu akan menemukan apa rahasia di balik titian kehidupan yang telah dijalani. Hingga, kelak akan engkau rasakan tak ada lagi riak kegelisahan dan keresahan saat sendiri.

Semoga. Wallahua'lam bi shawab.


kafemuslimah.com

Read More..

Kuntum-kuntum Bunga Dunia : Episode Bunga Mawar 

 




Saudariku, meskipun aku tak begitu suka dengan bunga. Tapi aku suka mengamati dan membuat pemaknaan-pemaknaan tentangnya. Sebab, bukankah kita dituntunkan untuk bertafakkur terhadap penciptaan Allah?

Dialog Satu Arah
Aku sudah menceritakan tentang bunga matahari beberapa waktu yang lalu (jika kalian sempat membaca tulisanku sebelumnya). Gambaran seseorang taat, seseorang yang berpegang teguh terhadap apa yang dianggapnya benar, apa yang menjadi prinsipnya. (setidaknya menurut pemaknaanku)

Saudariku, pasti kau tahu bunga mawar. Bunga yang sering menjadi lambang dari cinta, romantisme, bunga yang warnanya tegas, jika ia berwarna merah, maka ia akan berwarna merah darah, pekat! Jika ia putih, ia pun berwarna putih yang teguh, suci. Jarang mawar berwarna merah muda, meskipun mungkin ada.

Bunga mawar beraroma harum, kelopak-kelopaknya begitu tertata, banyak, dan melindungi benang sarinya dengan seksama. Mawar juga tidak mudah menggugurkan mahkota-mahkota bunganya, aku membuktikannya, betapa mawar tetap bermahkota dan berkelopak meskipun mungkin bila ia dipetik dengan tangkainya dan ia diletakkan tanpa air, ia mungkin layu, tapi mahkotanya tidak gugur!

Bunga itu masih lagi dilindungi kelopaknya yang tak kalah teguh. Bukan itu saja! Kau tahu, saudariku? Mawar begitu sulit terjangkau! Ya! Kita harus berhati-hati memetiknya sebab tangkainya yang meskipun kecil namun kokoh itu berduri.

Begitulah. Setiap bagian dari mawar sempat kuamati. Setiap bagian bunganya begitu mantap dan teguh, selain bentuknya yang indah dan baunya yang harum. Mawar begitu mempesona.

Mawar begitu misterius, elegan . Bentuk dan aromanya yang mempesona, semua membuat orang ingin menikmatinya, memetiknya, memilikinya. Tapi, ternyata tidak mudah mendapatkannya. Untuk memetiknya kita harus berhati-hati agar durinya tidak melukai. Tidak sembarangan kita bisa sambil lalu memtiknya, bila kita tidak ingin ’diserang’ oleh durinya. Tangkainya juga tidak mudah dipatahkan. Bila kalian pernah mengalami, kita harus menggunakan alat (gunting, pisau) untuk memotongnya. Iya kan?

Read More..

Bissmillahirrohmaanirrohiim…


 

 

Saya adalah seorang perempuan yang sedang mencari makna hidup, arti nafas, perempuan yang sedang belajar mencari arti kehidupan demi kehadiran dan kepergian demi kepergian….. 

 

Saya adalah perempuan dititik NOL di kebun hikmah yang tidak memiliki apa yang seharusnya saya miliki karena pencinta ILLAHI konon hanya ingin memiliki dan dimiliki ALLAH, Ingin menjadi TIADA hingga bertahta ALLAH saja, hingga tinggal jiwa sederhana tanpa berbalut dunia.

 

Saya adalah perempuan yang sedang mencoba belajar tentang arti IKHLAS, arti SABAR, arti MENCINTAI dan DICINTAI, arti MEMAAFKAN, arti TAWAKAL, Arti TIADA-ADA-TIADA, bukankah tak ada yang abadi di bumi ini, bahagia tak ada yang abadi, deritapun tak abadi, dan INSYAALLAH apa yang saya cantumkan disini bisa memberi sedikit pelajaran untuk mencintai dan mengobati luka sekaligus, dan yang pasti saya sedang mencari RIDHA ALLAH pemilik nafas saya agar ketika saya pulang, mudahlah Sakaratu Maut saya..

Aamiin…

 

Selamat berbahagia hikmah di kebun saya ini, semoga memberi keteduhan dan kelembutan, semoga dapat mengobati luka, semoga dapat membuat anda tersenyum..

 

Dan semua yang indah datangnya dari ALLAH, dan yang salah datang dari saya., mohon maaf jika ada penulisan yang kurang berkenan dengan hati.. Saya hanyalah manusia lemah..

Regards with my sincerely smile…

 

 

Read More..

SETETES EMBUN ....

 

Assalamu'alaikum...

Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita. Tanpa mereka, hati, fikiran, perasaan lelaki akan resah. Masih mencari walaupun sudah ada segala- galanya. Apalagi yang tidak ada di syurga, namun Nabi Adam a.s. tetap merindukan siti hawa.

Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, istri atau puteri. Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau lelaki sendiri yang tidak lurus, tidak mungkin mampu hendak meluruskan mereka.

Tak logis kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus. Luruskanlah wanita dengan cara petunjuk Allah, karena mereka diciptakan begitu rupa oleh mereka. Didiklah mereka dengan panduan dariNya: JANGAN COBA JINAKKAN MEREKA DENGAN HARTA, NANTI MEREKA SEMAKIN LIAR, JANGAN HIBURKAN MEREKA DENGAN KECANTIKAN, NANTI MEREKA SEMAKIN MENDERITA.

Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah, Kenalkan mereka kepada Allah, zat yang kekal, disitulah kuncinya. AKAL SETIPIS RAMBUTNYA, TEBALKAN DENGAN ILMU, HATI SERAPUH KACA, KUATKAN DENGAN IMAN, PERASAAN SELEMBUT SUTERA, HIASILAH DENGAN AKHLAK.

Suburkanlah karena dari situlah nanti merka akan nampak penilaian dan keadilan Tuhan. Akan terhibur dan berbahagialah mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik dunia, presiden ataupun perdana mentri negara atau women gladiator. Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan. Itu bukan diskriminasi Tuhan. Sebaliknya disitulah kasih sayang Tuhan, karena rahim wanita yang lembut itulah yang mengandungkan lelaki2 wajah: negarawan, karyawan, jutawan dan wan-wan lain. Tidak akan lahir superman tanpa superwoman. Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan. Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan, bahkan mereka pula membengkokkan.

LEBIH BANYAK LELAKI YANG DIRUSAKKAN OLEH PEREMPUAN DARIPADA PEREMPUAN YANG DIRUSAKKAN OLEH LELAKI. SEBODOH-BODOH PEREMPUAN PUN BISA MENUNDUKKAN SEPANDAI-PANDAI LELAKI.

Itulah akibatnya apabila wanita tidak kenal Tuhan. Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki. Kini bukan saja banyak boss telah kehilangan secretary, bahkan anakpun akan kehilangan ibu, suami kehilangan istri dan bapa akan kehilangan puteri. Bila wanita durhaka dunia akan huru-hara. Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa. Para lelaki pula jangan hanya mengharap ketaatan tetapi binalah kepemimpinan.

Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Allah PIMPINLAH DIRI SENDIRI DAHULU KEPADA-NYA. jinakan diri dengan Allah, niscaya jinaklah segala-galanya dibawah pimpinan kita.

JANGAN MENGHARAP ISTRI SEPERTI SITI FATIMAH, KALAU PRIBADI BELUM LAGI SEPERTI SAYIDINA ALI.

Dikutip dari milis Padang Mbulan dari sebuah e-mail yang dipostingkan oleh Enny Handayani (1/12/1999)

Read More..

Bulan Tertusuk Ilalang...

 

 


Malam menyelimuti, berganti peran karena takdir hari berputar dengan membawa kebaikan dan kejelekan. Tiada yang menyatakan terjadinya hari itu selain Allah (An Najm:58).  

Selamat tinggal dunia, bagi orang yang dangkal hatinya. Dia sebenarnya sudah mati walaupun masih di anggap hidup. Harapan palsu masih meninggalkan prasangka. Mesti tiada yang lebih indah daripada sekadar harapan dari mata air imajinasi. Bukanlah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya? (Az-Zumar:36)

Ketika sinar mentari lama pergi menembus malam menjelang senja, akan banyak yang bernapas lega. Sebab, Dialah yang menjadikan malam pakaian, dan tidur untuk istirahat (Al Furqon:47). Tak perlu ada kedustaan, ketika pintu peraduan telah terbuka untuk jangka waktu yang lama. Ketika semua manusia terbuai dalam naungan penjaga alam semesta. Ketika angin lembut menyapa, menghantarkan setiap insan pada mimpi yang lelap.
Mungkin sepenggal cerita bagi orang-orang yang terjaga, yang menekuri malam untuk mengagungkanNya. Seperti malam itu. Udara sejuk, lembut dan wangi. Sinar rembulan merembes ranting dedaunan, membiaskan cahaya kuning pucat pada kaki seorang lelaki paruh baya. Ia bersandar di bawah setanggul pohon tua. Di matanya denting keletihan hidup pecah bergelombang, lalu melebur membentuk pusara harapan bagi buah hatinya seorang. Ada beragam bacaan kehidupan yang ditekuri. Ia tak bisa memahami hakikat kata yang aneh dan mustahil. Meski ia dapat menelan kebisuannya bersama daun-daun pohon yang melambai membentuk bayang-bayang aneh menari-nari. Serentak menyenandungkan simfoni ganjil malam hari.

Gadis kecilnya berdiri tak jauh dari situ. Berjalan pelan-pelan, menikmati desir angin yang membelai hamparan ilalang. Ia mengenakan gaun beludru biru pekat berenda putih yang menghiasi kulitnya yang pucat, terpantulkan cahaya bulan. Embun membuat rumput berkilau-kilau. Sepasang kaki mungilnya menjejak dan mendesak-desak, tenggelam di rerumputan yang basah. Sebelum membungkuk dan melepas sepatu hitam yang terbuat dari kulit. Sepatu dipegang erat dengan satu tangannya. Ia tahu kalau ia masuk rumah dengan kaki kotor, seperti biasa ibunya akan marah. Lalu mengeluh, "betapa susah menasehati anak kecil." Namun ia bangga menjadi anak kecil, karena ia dapat menelan kebisuan tanpa kedustaan.

Jadi malam itu lilin-lilin kedustaan sudah ia padamkan dalam hati. Di ujung sana Ayahnya hanya melihat langkah-langkahnya yang ringan seakan terbang melayang. Entah berkejar dengan apa. Mungkin sesuatu yang tidak terlihat indra, sesuatu yang membuatnya ceria, imaji kanak-kanaknya. Ketika ia bertanya;

"Apa ayah benar-benar melihatnya?"

Ayahnya hanya tersenyum, sekalipun ia sebenarnya terperanjat, lalu ia bertanya sambil meneruskan bacaannya.

"Kamu bicara apa, nak?"

"Bulan itu. Apakah Ayah melihatnya?"

Ia menunjuk ke atas. Ayahnya tersenyum lagi. Kerena tak begitu mengerti maksudnya, Ayahnya hanya menyahut;

"Ayah tak bisa melihatnya dari bawah pohon".

"Tak apa", katanya. "Akan kupindahkan bulan, sehingga Ayah dapat melihatnya"

Rona wajah Ayahnya berubah dalam sekejab. "Kamu tidak bisa memindahkan bulan. Ia terlalu tinggi untukmu"

"Tentu saja aku bisa" ia bicara dengan keras, menyentak-nyentakkan kakinya ke tanah. Kedustaan macam apa yang dibuat oleh orang dewasa, ketika mereka merasa asing terhadap dirinya sendiri. Mimpi-mimpi apakah yang dapat menembus wajah-wajah renta ini, yang mencari alasan untuk terus bersembunyi atas nama sepotong realita yang selalu menghantui. Realita yang telah membuat mereka kehilangan jati diri.

"Lihat ini," ia berjalan menyusuri rerumputan sambil menengadah ke langit, yang menurutnya, itu menarik bulan menjauh dari pohon.

"Bulan itu mengikutiku" ujarnya merasa yakin.

Seketika Ayahnya terhenyak dan berdiri dari duduknya, berjalan menjauhi pohon. Ia nyadari kekeliruannya. Inilah untuk kesekian kali anaknya menunjukkan warna-warni imajinasi dengan pensil keluguan. Ia menatap nanap wajah anaknya.

"Ya, Ayah dapat melihatnya sekarang"

Senja hari itu indah. Bulan hampir penuh, menyisakan satu sisi yang masih tertutup bayangan.

"Mengapa bulan itu selalu mengikutiku, Yah?" ia bertanya dengan penuh percaya diri. Ayahnya tidak menjawab, membisu tertegun gagu. Hanya sebuah tatapan beku yang tenggelam dalam alam bawah sadar yang absurb, seribu jawab membentur dinding-dinding hatinya. Lalu terpantul kembali dan tenggelam ke lubuk hatinya yang terdalam. Ia sadar tidak mungkin menjelaskan logika paradigma pada putri bungsunya yang baru berumur 5 tahun.

Kata Einstein, Jika kau ingin anakmu pintar ceritakan dongeng untuknya, dan jika kau ingin mereka pintar, ceritakan lagi dongeng untuknya.

"Bulan itu menunggu untuk kau tangkap" jawab Ayahnya pada akhirnya. Gadis kecil itu mengerutkan kening, lalu bertanya lagi, "Apakah aku bisa menangkapnya?"

Ayahnya langsung menyahut. "Tentu saja bisa." Hhhh, bola mata anaknya membulat. "Benarkah? bagaimana caranya Yah?"

"Coba lihat kemari," Ayahnya menuntun tangan mungilnya perlahan-lahan. Lihat ilalang itu, ia tidak lebih tinggi darimu kan?" ia mengangguk. "Tapi ilalang itu sanggup menggapai bulan" Ayahnya berkata dengan bangga.

"Sini...sini...,coba lihat kemari" Lalu Ayahnya merunduk dan mengajaknya tenggelam dalam rumpun ilalang yang menjulang. Ia mengikuti saja tanpa sepenuhnya mengerti apa maksud sang Ayah.

Tapi, Dia tahu sekarang, dia percaya Ayahnya. Di sini, di balik rimbunan ilalang ini, ia hanya melihat sepotong bulan di atas langit yang kelam, dan ilalang yang menjulur-julur menusuknya dari bawah.

Ayahnya tersenyum dan berkata, "Sekarang kau percaya kan?"

Ia menatap wajah Ayahnya, seolah membenarkan. Kemudian Ayahnya mengajaknya berdiri lagi dan menganggkat tubuhnya yang mungil di bahunya, dan menggendongnya. Dia biarkan gadis kecilnya itu duduk di bahunya untuk beberapa lama, lalu ia berkata :

"Anakku... jika kau besar nanti, kau harus mempunyai sebuah impian. Impian yang tinggi dan tinggi sekali, seperti bulan itu. Seolah-olah engkau tidak bisa mencapainya, tapi sebenarnya engkau bisa."

Gadis kecilnya mengangguk-angguk, entah mengerti entah tidak. Ayahnya melanjutkan. "Nanti, engkau akan melihat banyak orang menyangsikanmu untuk menggapainya. Seperti engkau menyangsikan ilalang itu, tapi percayalah sebenarnya engkau bisa" ia berhenti sejenak, "Anakku, Ayah tidak tahu berapa lama lagi Ayah bisa menemanimu dan terus membantumu menggapai impianmu, namun kalaupun nanti kau sendiri, kau harus kuat. Kau harus yakin bahwa kau bisa menggapainya, meski tanpa Ayah. Kau mengerti kan? Coba ulurkan tanganmu ke atas"

Di atas mereka langit sangat luas, hanya sepotong bulan yang tersisa. Ketika menengadah dan menjulurkan tangan di atas bahu Ayahnya, sekali lagi ia tahu: Ayahnya benar.

"Aku percaya Yah, Aku bisa manangkap bulannya... Aku bisa menangkap bulannya!!!"

Ia berteriak-teriak kegirangan.

Jauh sebelum semua diungkap, Ayahku telah mengajarkan perspektif dan persepsi. Mengasah ketajaman bashirah hati, menangkap keabstrakan paradigma deklaratif. Dan aku masih tetap di sini melihat bulan, meski tanpa Ayahku. Sama seperti enam belas tahun yang lalu. Bulan yang sama yang kusaksikan di saat kecilku, yang sama yang disaksikan orang di seluruh dunia. Dan mungkin juga disaksikan oleh seseorang yang jauh di belahan bumi sana atau yang dekat di sini.

Bulan terang sepenuh lingkaran. Cahanya indah menantang kita keluar malam, untuk menatap. Dia sangat memikat, dan aku sungguh tercekat. Hingga terbentur pada sebuah paradigma yang diajarkannya. Yang terpenting dalam hidup adalah bagaimana cara kita memandang hidup. Sesuatu yang terlihat tinggi, sebenarnya tidak terlampau tinggi untuk dicapai. Semua tergantung dari sudut mana kita memandangnya, itu pesan Ayah. Seperti bulan itu, kucoba membaca cerita kehidupan yang dilukis olehnya, saat purnama kuning pucat terangi kami dengan pendar-pendar imajinasi enam belas tahun yang lalu. Biarkan kami bangkit dari tidur kami yang lelap. Melerai mimpi menuai kehidupan. Karena di sana kami menyaksikan : Bulan tertusuk ilalang.

Salam cinta buat Ayah yang telah memberi banyak cerita di masa kecilku. Ayah, terimalah ungkapan terima kasihku yang terdalam, yang tak kan pernah cukup untuk membalas segala jasa yang engkau berikan.



eramuslim.com
Read More..

  "Mengunjungi Calon Penghuni Syurga"

 

Pernahkan anda mempunyai keinginan untuk mengunjungi calon penghuni surga ketika di dunia? Mungkin akan ada yang balik bertanya : Bagaimana caranya mengetahui kalau dia calon penghuni surga atau bukan? atau memangnya ada calon penghuni surga ? atau yang lebih ekstrim lagi memangnya surga itu ada? (yang terakhir ini mungkin penganut falsafah John Lennon).


Saya sih sebenarnya tak pernah membayangkan hal itu. Tapi Alhamdulillah, Allah memberi saya kesempatan untuk mengunjungi calon-calon penghuni surga itu, 2 kali malah.


Wah, beruntung benar ya, saya? Hmmm…memang! Dan untuk keberuntungan besar ini saya cukup membayar sekitar 10 ribu untuk tiap kunjungan. Itu pun sudah termasuk transport dan makan serta pasilitas lainnya. Alat-alat permainan juga sudah disiapkan.


Pokoknya saya tinggal datang, duduk, dan main dengan calon-calon penghuni surga itu. Pas pulang, perut kenyang, hati pun riang! (iklan margarin banget ya).


Ya, 25 April 2004 ini saya datang lagi ke panti itu. Panti asuhan untuk anak-anak dengan cacat ganda. Suasananya masih tetap seperti dulu. Panti yang sederhana, bahkan terkesan seadanya. Papan nama yang tak terlalu mencolok yang hampir-hampir luput jika tak diperhatikan benar-benar. Dan pemandangan setahun lalu pun terulang. Ketika angkot kami berbelok ke halaman panti, teriakan-teriakan disusul beberapa anak panti yang berlarian menyambut kami dan berebutan mencium tangan kami.


Ya, itulah wajah-wajah calon penghuni surga itu. Wajah-wajah yang sama seperti setahun yang lalu. Santi, Siti, Yoyok, Sri, Maya, Dewi, Osa, Nita, Pipik, Heni, Slamet, dll. Dan hei…dimana si kecil Cita? Oh…rupanya dia sudah diambil orangtuanya yang sudah lulus kuliah dan dibawa jauh ke Pontianak sana.


Dan ajaib, saya yang manusia biasa ini bisa menyentuh mereka, calon-calon penghuni surga itu! Dan meski ini bukan yang pertama kali, tetap saja saya takjub melihat mereka begitu gembira (saking gembiranya kadang sampai menjerit), begitu riang, begitu optimis…


Seno Gumira Ajidarma dan Sekar Ayu Asmara sampai rela membuat novel dan film (Biola Tak Berdawai) sebagai wujud dedikasi untuk mereka, anak-anak menakjubkan itu. Anak-anak yang bagai biola tak berdawai. Apalah arti biola tanpa dawai? Tanpa dawai, tak akan ada nada-nada indah yang dihasilkan. Tapi betapa pun diamnya sebuah biola, tetap saja dia punya keindahan tersendiri.


Dan sungguh, senyum mereka, tawa mereka, dan semua ketidaksempurnaan yang mereka miliki justru adalah nada-nada terindah yang mengalun di hati kita. Lupakan sejenak naik gunung, lupakan sejenak jalan-jalan ke kebun binatang, lupakan sejenak semua tempat wisata! Ada calon-calon penghuni surga yang menanti kita setiap saat. Ada orang-orang istimewa yang tak mendapat kewajiban salat dan tak pernah berbuat dosa yang senantiasa gembira menyambut kedatangan kita di sana. Oleh sebab itu janglah kita menyia-nyiakan kesempatan ini. (Fatma)

manajemenqolbu.com

Read More..

Mengenal Allah Lewat Dzikir dan Pikir

 

 

Kalau kita ingin mengenal kehebatan seorang arsitek, cara terbaik adalah dengan melihat bangunan yang dirancangnya. Kalau kita ingin mengenal kehebatan seorang pelukis, maka kita bisa melihat seberapa bagus kualitas lukisannya.

Begitu pula bila ingin mengenal kebesaran Allah, maka kita bisa melihat kualitas ciptaannya. Apa ciptaan Allah tersebut? Itulah alam semesta yang tercipta dan Alquran yang tertulis. Ada dua cara untuk mengenal kebesaran Allah, yaitu melalui pikir dan zikir. Pikir lebih berkaitan dengan aspek nalar. Semakin seseorang memahami ciptaan Allah, maka akan semakin sadar pula akan kebesaran Allah.

Karenanya, Alquran berulangkali merangsang manusia untuk terus memikirkan semua itu. Beberapa ungkapan Alquran yang menujukkan hal tersebut, la'llakum tattaqun, la'allakum tadzkurun. Maksudnya Allah menyuruh manusia untuk melihat, merenungkan, dan mengkaji semua ciptaan-Nya. Bahkan Prof Ahmad Salaby menyebutkan bahwa seperlima kandungan Alquran berisi petunjuk agar manusia bisa mengkaji alam ini.

Kedua, manusia tidak cukup hanya mengembangkan pikir. Manusia pun perlu zikir. Tanpa zikir manusia bisa memiliki, tapi ia tidak akan menikmati. Manusia bisa sukses, tapi ia tak akan bahagia. Maka, Alquran pun mendorong kita untuk mengembangkan kemampun zikir. Zikir bisa dilakukan dengan jalan merenungkan dan menyebut kebesaran Allah.

Bila kita mampu mengembangkan dan menyeimbangkan dua hal ini dengan baik, maka kita layak disebut ulil albab. Dalam QS. Ali Imran: 190-191 disebutkan karakteristik dari ulil albab.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albab, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka periharalah kami dari siksa neraka"." (Ems)

 

Republika

 

Read More..